Ini kisah lanjutan dari postingan di Instagram saya sebelumnya. Beliau adalah salah satu guru pertama, ya… guru pertama yang ada di wilayah Serpong. Bagi yang belum tau, beliau bernama Ibu Railem, orang sekitar memanggilnya dengan Guru Ilem. Foto potrait ini pun pernah saya masukan dalam pameran bertajuk “LAMPAU” beberapa minggu lalu.
Dari wawancara saya dengan orang ini banyak kisah inspiratif dari seorang nenek tua berkelahiran tahun 1925 ini, jangan kan memeikirkan tanggal kelahiran saya, merdeka saja belum saat itu. Salah satu kisahnya yang menarik adalah saat ia ditunjuk oleh salah satu warga Belanda untuk menjadi guru padahal Guru Ilem hanya bisa membaca dan menulis, membaca dan menulis adalah hal yang luar biasa kala itu. Selain itu ia hanya dibayar 2 ketip, yang bahkan saya saja tidak tau apa itu “ketip”. Tanpa membandingkan pada zaman ini, dari kisahnya lah aku mulai paham mengapa ada pepatah mengatakan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” bagaimana tidak, selain cuma dibayar 2 ketip (yang entah berapa), dicemooh orang lain (karena hal tidak bisa dituliskan), belum adanya kendaraan dan harus menerobos hutan dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolah rela mereka lalukan demi mengajar kan murid-muridnya.
Satu kalimatnya yang membuat kuping ini selalu terngiang “kajeun urang mah ngan bisa maca jeung nulis geh, urang deuk ngajarkeun ka nu lain ambeh barisa maca sareng nulis” (biar aja saya cuma bisa nulisa sama baca, saya mau tetep mengajarkan ke yang lain supaya yang lain bisa nulis dan baca), sebuah kalimat sederhana dan jujur, yang masih ku bayangkan, jika saat itu ia menolak untuk mengajarkan membaca dan menulis pada yang lain, apa wilayah Serpong semaju ini?apa warga Serpong sepintar sekarang?apa Indonesia jadi merdeka?
No comments:
Post a Comment