Monday, January 27, 2020

Monday, January 16, 2017

Si Pembali Cilik

Balap liar bukan lagi menjadi rahasia dikalangan umum. Kegiatan ini ilegal, namun tidak bisa dihilangakan karena berbagai macam alasan. Pihak berwenangpun seolah sudah lelah dan kehabisan akal untuk berupaya menghilangkan kegiatan berbahaya ini.
  Pada umumnya pembalap liar bergolongan remaja hingga orang tua, namun tidak jarang terdapat anak  dibawah umur yang masih duduk di bangku sekolah menjadi pembali (sebutan untuk pekalu balap liar). Aktifitas ini memang tidak ada batasan umur, karena sesuai dengan sebutannya (liar), tanpa aturan.  Balap liar selain sebagai ajang kebut-kebutan juga, digunakan sebagai ajang pamer untuk menunjukan motor siapa yang tercepat. Motor yang digunakan pun sudah jauh dari ketentuan SNI, jangankan kaca spion, body motorpun sudah tidak ada.
  Salah satu pembalap liar ini bernama Rizky Fihri, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di daerah Tangerang Selatan. Umurnya yang masih terhitung belia membuat perbedaan dirinya dengan pembali lain.  Perawakan yang kecil dan wajah yang masih lugu adalah salah satu ciri khas dari dirinya.
  Selain menjadi pembalap liar Rizky bekerja dibengkel milik omnya sebagai montir, uang yang ia dapatkan di gunakan sebagai tambahan untuk ia sekolah. Bermain game juga menjadi kegiatan favoritnya dikala ia sedang tidak ada kegiatan. Diantara teman-temannya, Rizky merupakan anak termuda karena rata-rata temannya sudah lulus sekolah. Walaupun sibuk dengan kegiatan ilegal ini, Rixky tidak pernah lupa menjalankan kewajibannya untuk tetap sekolah setiap harinya.












Tuesday, December 13, 2016

Guru Pertama di Serpong

Ini kisah lanjutan dari postingan di Instagram saya sebelumnya. Beliau adalah salah satu guru pertama, ya… guru pertama yang ada di wilayah Serpong. Bagi yang belum tau, beliau bernama Ibu Railem, orang sekitar memanggilnya dengan Guru Ilem. Foto potrait ini pun pernah saya masukan dalam pameran bertajuk “LAMPAU” beberapa minggu lalu.
Dari wawancara saya dengan orang ini banyak kisah inspiratif dari seorang nenek tua berkelahiran tahun 1925 ini, jangan kan memeikirkan tanggal kelahiran saya, merdeka saja belum saat itu. Salah satu kisahnya yang menarik adalah saat ia ditunjuk oleh salah satu warga Belanda untuk menjadi guru padahal Guru Ilem hanya bisa membaca dan menulis, membaca dan menulis adalah hal yang luar biasa kala itu. Selain itu ia hanya dibayar 2 ketip, yang bahkan saya saja tidak tau apa itu “ketip”. Tanpa membandingkan pada zaman ini, dari kisahnya lah aku mulai paham mengapa ada pepatah mengatakan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” bagaimana tidak, selain cuma dibayar 2 ketip (yang entah berapa), dicemooh orang lain (karena hal tidak bisa dituliskan), belum adanya kendaraan dan harus menerobos hutan dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolah rela mereka lalukan demi mengajar kan murid-muridnya.
Satu kalimatnya yang membuat kuping ini selalu terngiang “kajeun urang mah ngan bisa maca jeung nulis geh, urang deuk ngajarkeun ka nu lain ambeh barisa maca sareng nulis” (biar aja saya cuma bisa nulisa sama baca, saya mau tetep mengajarkan ke yang lain supaya yang lain bisa nulis dan baca), sebuah kalimat sederhana dan jujur, yang masih ku bayangkan, jika saat itu ia menolak untuk mengajarkan membaca dan menulis pada yang lain, apa wilayah Serpong semaju ini?apa warga Serpong sepintar sekarang?apa Indonesia jadi merdeka?

Terima Kasih Bapak Security


Ini cerita tentang sedikit perjalanan saya menuju salah satu kantor megah di Jakarta Pusat. Sebelumnya, cerita ini murni dari pikiran saya tanpa ingin bersarkasme atau menyindir pihak mana pun.
Oke, kita mulai. Kamis sore hari telepon saya berdering, nomor asing dan tidak saya kenal saat itu, pikir saya itu pasti dari perusahaan asuransi yang mau menawarkan produk. Setelah saya terima ternyata saya salah, panggilan untuk interview di salah satu perusahaan besar pada sore hari esok (Jum'at), saya langsung menyanggupi tawaran itu dan memutuskan untuk jalan keesokan harinya.
Sangat ragu dan bingung awalnya setelah saya ingat pada hari itu bertepatan dengan aksi 2 Desember, kebetulan kantor tempat saya interview berada persis di lokasi acara 2 Desember itu akan dilangsungkan. Singkat cerita, keeesokan harinya saya memutuskan untuk pergi menggunakan kereta karena pikir saya jalanan disekitar sana akan ditutup. Berangkatlah saya dari Stasiun Rawa Buntu, dalam pikiran saya selalu terbayang betapa crowded'nya di Stasiun Tanah Abang hingga Stasiun Gondangdia (destinasi stasiun terakhir).
Perjalanan begitu nyaman, di dalam kereta sejuk, tidak ramai karena saat itu jam 1 siang, belum waktunya kereta dipadati oleh para pekerja yang hendak pulang. Stasiun demi stasiun saya lewati, sampai di Stasiun Palmerah mulai lah terlihat beberapa orang menggunakan pakaian berwarna serba putih dengan berbagai macam penutup kepala yang juga berwarna putih. Prediksi yang saya pikirkan yaitu saya akan melawan arus dengan para peserta 2 Desember tersebut karena pada jam saya berangkat tepat sekali dengan jam mereka pulang/selesai. 
Betapa terkejutnya saya saat kereta tiba di Stasiun Tanah Abang, di sana lah tempat saya transit kereta untuk menuju stasiun tujuan saya. Puluhan, ah tidak, saya rasa ratusan orang mungkin, berdiri berkerumun menunggu kereta datang dengan pakaian yang mayoritas hampir sama berwarna putih. Yang paling pertama masuk ke dalam pikiran “gimana cara gua keluarnya?bisa turun aja enggak mungkin”. Ya betul saja, saat turun karena kondisi penumpang yang akan turun lebih sedikit membuat penumpang yang akan masuk tidak sabar dan menerobos masuk, beruntung para security stasiun menertibkan dan memberi arahan, berhasil lah saya keluar dari stasiun.
Sesudah turun dari kereta saya bingung harus bergerak kemana, seharusnya saya naik tangga untuk menyebrang ke peron 3, tapi jangankan naik tangga, untuk bergerak disitu saja sulit. Kondisi yang ramai, hujan, riuh, bising, mewakili pikiran saya saat itu. Di setiap sudut security berusaha menertibkan dan memberi arahan, tidak lelahnya mereka berteriak menggunakan Tia (pengeras suara) agar suara mereka terdengar lebih jelas. Tangga yang harusnya menjadi 2 jalur yaitu naik dan turun berubah menjadi kepadatan orang yang berdiri terdiam “gimana mau naik ini?” mungkin pikirian itu sama dengan penumpang lainnya yang akan pindah peron. Dengan Toa, security terus memberi arahan dan akhirnya mereka memkasa orang-orang yang berada di tangga untuk turun, dengan berani dan tegasnya mereka memberi arahan orang-orang tersebut “YANG DI TANGGA TURUN, YANG LAIN MAU PADA NAIK, KASIH JALAN KASIH JALAN”. Dari tegasnya Pa Security yang demikian padahal bisa membuat dirinya terkena cibiran dari mereka yang jumlahnya lebih banyak, namun peraturan tetap peraturan, banyak teriakan setelah itu dari kerumunan tangga “turun kemana pa ini aja bingung mau gerak” “turun gimana, yang dibawah suruh geser dulu” dan masih banyak yang lainnya. Setelah himbauan Pa Security mulai lah tangga bergerak dan kosong di sisi untuk naik, mulailah orang-orang yang akan naik (termasuk saya) membentuk barisan menerobos kerumunan dan naik keatas, saya kebetulan berada di urutan paling belakang. Selama itu berlangsung kerumunan yang lain masih terus mengeluh dan menggerutu kecil pada security, namun pa security tetap bersikeras menertibkan konisi pada saat itu. Puncaknya, berselang 5 mungkin 6 di depan saya terdapat pria paruh baya menggunakan batik dan hendak pula menuju ke atas, saat melewati security yang masih menertibkan keadaan saat itu sang pria paruh baya tersebut memeluk Pak Security dan mengucapkan beberapa patah kata, jika dilihat dari gerakan bibirnya saya menangkap sang pria paruh baya ini mengucapkan “Yang sabar, makasih ya” kurang lebih seperti itu, setelah pelukan tersebut Pa Security yang awalnya berwajah kesal menjadi tersenyum seakan bahagia.
Sederhana memang, mungkin tidak terlalu bermakna juga untuk yang lain, namun dari hal tersebut saya menyimpulkan banyak hal, pertama: saat anda benar, jangan pernah takut walaupun beresiko tinggi. Kedua: ucapan atau doa dari seseorang pada orang lain bahkan yang tidak dikenalnya dapat memecut semangat dan merupakan bayaran yang pantas untuk sebuah penghargaan.
Terima kasih Pa Security, walaupun kondisi tertekan anda tetap menjalankan tugas anda dengan baik dan berani. Selanjutnya saya pun menjalani perjalanan saya hingga selamat sampai tujuan, selesai.

Thursday, December 8, 2016

“Banana Split” di Taman yang Nyaman

Banana Split Tamarin Nurseries Garden (2)

Banana Split Tamarin Nurseries Garden (1)

Banana Split Tamarin Nurseries Garden (3)


Banana Split, salah satu makanan yang mungkin sudah tidak terlalu asing dibeberapa telinga para penikmat makanan. Banana Split sendiri adalah sebuah makanan yang berbahan dasar pisang, pisang itu kemudian dibagi menjadi beberapa bagian (biasanya dibelah menjadi dua bagian) dan kemudian diberikan toping ice cream, susu dan banyak lainnya. Makanan ini disuguhkan saat ice cream dalam kondisi masih memberku.
Pada sore itu saya kebetulan sedang mengunjungi salah satu cafe di kawasan Ciledug untuk sesi pemotretan prewedding, cafe tersebut bernama Tamarin Nurseries Garden. Sesuai dengan namanya, cafe ini menawarkan konsep taman dengan berbagai macam tanaman disekelilingnya. “Nyaman”, mungkin itu kalimat yang terbersit dalam pikiran saat pertama masuk lokasi ini.
Sebelum melakukan sesi foto saya sempat memesan makanan di cafe tersebut, melihat teman-teman yang memesan makanan-makanan kering saya berinisiatif untuk memesan makanan yang agak berbeda. Pada halaman utama buku menu terlihat nama banan split, tidak pikir panjang saya langsung memesan menu tersebut, kebetulan cuaca saat itu cukup panas, memilih pisang dengan topping ice cream saya rasa tepat.
Tidak lama menunggu pesanan saya pun datang, sama dengan banana split pada umumnya, penyajian berupa irisan pisang yang kemudian diberi ice cream pada bagian tengah kedua irisan pisang tersebut, tidak lupa pada bagian atas ice cream diberi daun mint sebagai garnis. Alas yang digunakan pun cukup menarik, mangkuk kecil melengkung berbentuk pisang.
Pada awalnya saya merasa bahwa banana split ini akan sama seperti banana split - banana split pada umumnya, namun saat saya mencoba ternyata ada perbedaan dalam rasanya. Pada bagian dasar mangkuk oleh sang koki dituang sirup kental berwarna merah, sekilas sirup ini berasa seperti strawberry, namun perpaduan rasa antara pisang, ­ice cream vanila, ice cream strawberry dan taburan meses terasa sangat pas di lidah.
Pisang yang digunakan pun manis dan tidak terlalu lembek, pemilihan pisang yang sedikit keras mungkin bertujuan untuk menghindari pisang yang semakin lembek saat bercampur ice cream yang dingin. Ice cream yang digunakan pun tidak terasa seperti ice cream - ice cream murahan, begitu lembut dan nyaman di lidah. Saya rasa dengan harga 17k perporsi banana split ini sangat lah wajar dan cukup terjangkau, mengingat rasa yang dihasilkan tidak main-main.
Bagi yang berminat untuk mencicipi menu ini dan menu-menu lainnya cafe Tamarin Nurseries Garden buka dari pagi hingga malam hari disetiap harinya. Lokasinya berada di Jl. Komplek Deplu, Larangan, Tangerang, Banten.


Oleh Irvan Ramadhan

Friday, December 2, 2016

Foto Yang Menjadi Poster Pada Pameran "PRASCA"

Kondisi Pasar Serpong yang diambil dengan sudut dan lokasi yang sama dengan waktu yang jauh berbeda.

Berikut adalah foto poster dalam pameran ke dua yang diadakan oleh komunitas WSTD di acara Hut Tangsel 2016. Foto sebelah kanan merupakan hasil karya saya yang mengacu pada karya milik Dr. Matheus (sebelah kiri). Foto yang saya ambil pada tahun 2016 ini membandingkan kondisi pada tahun 1972 milik Dr. Matheus. Ilustrasi dan pengolahan gambar pun merupakan salah satu karya yang saya buat.