Ini cerita tentang sedikit perjalanan saya menuju salah satu kantor megah di Jakarta Pusat. Sebelumnya, cerita ini murni dari pikiran saya tanpa ingin bersarkasme atau menyindir pihak mana pun.
Oke, kita mulai. Kamis sore hari telepon saya berdering, nomor asing dan tidak saya kenal saat itu, pikir saya itu pasti dari perusahaan asuransi yang mau menawarkan produk. Setelah saya terima ternyata saya salah, panggilan untuk interview di salah satu perusahaan besar pada sore hari esok (Jum'at), saya langsung menyanggupi tawaran itu dan memutuskan untuk jalan keesokan harinya.
Sangat ragu dan bingung awalnya setelah saya ingat pada hari itu bertepatan dengan aksi 2 Desember, kebetulan kantor tempat saya interview berada persis di lokasi acara 2 Desember itu akan dilangsungkan. Singkat cerita, keeesokan harinya saya memutuskan untuk pergi menggunakan kereta karena pikir saya jalanan disekitar sana akan ditutup. Berangkatlah saya dari Stasiun Rawa Buntu, dalam pikiran saya selalu terbayang betapa crowded'nya di Stasiun Tanah Abang hingga Stasiun Gondangdia (destinasi stasiun terakhir).
Perjalanan begitu nyaman, di dalam kereta sejuk, tidak ramai karena saat itu jam 1 siang, belum waktunya kereta dipadati oleh para pekerja yang hendak pulang. Stasiun demi stasiun saya lewati, sampai di Stasiun Palmerah mulai lah terlihat beberapa orang menggunakan pakaian berwarna serba putih dengan berbagai macam penutup kepala yang juga berwarna putih. Prediksi yang saya pikirkan yaitu saya akan melawan arus dengan para peserta 2 Desember tersebut karena pada jam saya berangkat tepat sekali dengan jam mereka pulang/selesai.
Betapa terkejutnya saya saat kereta tiba di Stasiun Tanah Abang, di sana lah tempat saya transit kereta untuk menuju stasiun tujuan saya. Puluhan, ah tidak, saya rasa ratusan orang mungkin, berdiri berkerumun menunggu kereta datang dengan pakaian yang mayoritas hampir sama berwarna putih. Yang paling pertama masuk ke dalam pikiran “gimana cara gua keluarnya?bisa turun aja enggak mungkin”. Ya betul saja, saat turun karena kondisi penumpang yang akan turun lebih sedikit membuat penumpang yang akan masuk tidak sabar dan menerobos masuk, beruntung para security stasiun menertibkan dan memberi arahan, berhasil lah saya keluar dari stasiun.
Sesudah turun dari kereta saya bingung harus bergerak kemana, seharusnya saya naik tangga untuk menyebrang ke peron 3, tapi jangankan naik tangga, untuk bergerak disitu saja sulit. Kondisi yang ramai, hujan, riuh, bising, mewakili pikiran saya saat itu. Di setiap sudut security berusaha menertibkan dan memberi arahan, tidak lelahnya mereka berteriak menggunakan Tia (pengeras suara) agar suara mereka terdengar lebih jelas. Tangga yang harusnya menjadi 2 jalur yaitu naik dan turun berubah menjadi kepadatan orang yang berdiri terdiam “gimana mau naik ini?” mungkin pikirian itu sama dengan penumpang lainnya yang akan pindah peron. Dengan Toa, security terus memberi arahan dan akhirnya mereka memkasa orang-orang yang berada di tangga untuk turun, dengan berani dan tegasnya mereka memberi arahan orang-orang tersebut “YANG DI TANGGA TURUN, YANG LAIN MAU PADA NAIK, KASIH JALAN KASIH JALAN”. Dari tegasnya Pa Security yang demikian padahal bisa membuat dirinya terkena cibiran dari mereka yang jumlahnya lebih banyak, namun peraturan tetap peraturan, banyak teriakan setelah itu dari kerumunan tangga “turun kemana pa ini aja bingung mau gerak” “turun gimana, yang dibawah suruh geser dulu” dan masih banyak yang lainnya. Setelah himbauan Pa Security mulai lah tangga bergerak dan kosong di sisi untuk naik, mulailah orang-orang yang akan naik (termasuk saya) membentuk barisan menerobos kerumunan dan naik keatas, saya kebetulan berada di urutan paling belakang. Selama itu berlangsung kerumunan yang lain masih terus mengeluh dan menggerutu kecil pada security, namun pa security tetap bersikeras menertibkan konisi pada saat itu. Puncaknya, berselang 5 mungkin 6 di depan saya terdapat pria paruh baya menggunakan batik dan hendak pula menuju ke atas, saat melewati security yang masih menertibkan keadaan saat itu sang pria paruh baya tersebut memeluk Pak Security dan mengucapkan beberapa patah kata, jika dilihat dari gerakan bibirnya saya menangkap sang pria paruh baya ini mengucapkan “Yang sabar, makasih ya” kurang lebih seperti itu, setelah pelukan tersebut Pa Security yang awalnya berwajah kesal menjadi tersenyum seakan bahagia.
Sederhana memang, mungkin tidak terlalu bermakna juga untuk yang lain, namun dari hal tersebut saya menyimpulkan banyak hal, pertama: saat anda benar, jangan pernah takut walaupun beresiko tinggi. Kedua: ucapan atau doa dari seseorang pada orang lain bahkan yang tidak dikenalnya dapat memecut semangat dan merupakan bayaran yang pantas untuk sebuah penghargaan.
Terima kasih Pa Security, walaupun kondisi tertekan anda tetap menjalankan tugas anda dengan baik dan berani. Selanjutnya saya pun menjalani perjalanan saya hingga selamat sampai tujuan, selesai.